Ketika Bersyukur Mengubah Segalanya

DCIM102MEDIA
Salatiga, diwaktu cuaca cerah. Dari jendela kamarku.

 

“Semua tidak enak, serba tidak enak” kataku kepada Mama via telfon. “Aku tidak suka kamarnya. Tidak ada AC, kamarnya terlalu sempit. Ditambah lagi yah Ma.. Jeni kan maunya kamar mandi dalam. Tapi kok ini malah bukan? kamarku ini di lantai 3. Tangganya curam. Bagaimana kalau..” semua kemungkinan dan ketidaksukaanku berhamburan begitu saja kepada Mama. Diujung sana Mama mendengarnya dengan penuh kesabaran. Hanya hening mendengar kata-kataku.

Selang beberapa detik berlalu Mama menjawabku dengan kalimat singkat yang mengusik pikiranku: “Syukuri apa yang ada dulu, ndhuk (panggilan untukk anak perempuan dalam bahasa Jawa). Besok, kamu bisa pergi mencari tempat yang lain”.

Setelah telfon malam itu, aku terdiam didalam kamar. Apa memang benar kata Mama bahwa aku kurang mensyukuri situasi saat ini? Malam itu aku tertidur lelap dengan kekesalan karena tempat yang kuanggap kurang bagus untuk kutempati.

Keesokan harinya  kelas pertamaku dimulai. Sedari pagi aku bersama Papa sudah tiba di depan TU program Magister. Berkas-berkas pribadi dalam wujud lembar per lembar itu kuserahkan kepada staf admin. Beberapa lembar form kuisi dan kutandatangani.

Tepat pukul 10, kelas dimulai. Disitulah aku berkenalan dengan teman-teman yang akan menjadi teman seperjuanganku dalam 1,5 tahun mendatang. Banyak hal yang kami diskusikan. Dari beberapa kali pertemuan yang telah mereka lewati. Program-program yang harus dimasukkan sebagai program wajib dalam jurusan kami. Panjang lebar luas dalam pembahasan akhirnya tiba ke tempat mereka tinggal. Kebetulan beberapa teman dalam kelas itu mayoritas berasal dari luar pulau Jawa. Hal menarikpun muncul. Salah satu temanku menceritakan bagaimana dia bisa mendapatkan tempat kost di area ini:

“Waktu tiba disini tuu.. sa blum dapat tempat kost. Sa sama 2 teman lainnya tong tinggal di hotel dulu. 3 hari tong menginap di hotel. Putar-putar, keliling baru dapat tempat kost. Itupun jauh skali dari kampus. Tong harus jalan sekitar 20 menit biar tidak ketinggalan kelas. Kost-kost yang lain sudah pada penuh, jadi tong tempati yang ada saja”.

Aku teringat. Saat itu juga dengan omongan Mama. “….kamu kurang bersyukur..”

Betapa konyolnya aku saat itu. Hanya melihat dari keinginan dan keegoisan diriku sendiri. Ketika memusatkan semua hal dengan dirimu, itu yang kau dapatkan. Kurang mensyukuri ini dan itu, tidak dapat melihat betapa beruntungnya dirimu untuk bisa mengalami berbagai kemudahan yang awalnya aku anggap sebagai “kesusahan”.

Dibandingkan dengan kost teman-temanku, kostku hanya berjarak 10 menit dari kampus. Memang sih, kamarku letaknya di lantai 3. Tapi sisi positifnya adalah aku secara alami berolah raga setiap hari. H-3 keberangkatanku kesini, kost yang kutempati saat ini sudah dibooking oleh keluargaku yang berdomisili disini. Jadi waktu aku tiba disini, aku langsung punya tempat tinggal dengan berbagai fasilitas yang sudah disiapkan. Apa coba yang kurang? Bahkan untuk belanja berbagai kebutuhan, keponakan-keponakanku disini dengan senang membantuku. Tidak ada yang kurang. Satu lagi yang aku suka dari tempat ini. Dia dekat dengan berbagai depot dan warung makan. Jadi kalau aku ingin keluar makan, tidak perlu jauh-jauh untuk bisa mengakses. Lokasinya strategis sekali.

Wow. Betapa kurang bersyukurnya diriku ketika mengingat kembali bagaimana aku dibantu sedemikian rupa sehingga bisa mendapatkan tempat tinggal. Seperti pelajaran kehidupan yang diremedialkan kembali didepan mukaku.

Sejak saat itu hingga sekarang, aku tidak menggerutu lagi kepada orang-orang terdekatku. Cara pandangku berubah. Total. Setiap tangga yang kudaki membuat aku tersenyum. Setiap langkah yang kuayunkan, menjadi terasa gampang. Lingkungan disekelilingku yang awalnya kuanggap sebagai “kekurangan” kini malah menjadi unsur kuat yang dapat aku gunakan untuk memudahkan keseharianku ataupun berbagai hal yang aku butuhkan.

Aku merenung. Sebenarnya memang ketika kita kurang bersyukur untuk hal yang telah ada, kita menjadi orang yang lebih sering menggerutu dan tidak dapat menikmati sisi lain dari indahnya proses kehidupan dari hari ke hari. Ketika kondisi situasi yang ada kita syukuri, maka kita punya kemampuan untuk menikmati dan menjalani setiap harinya dengan senyuman keikhlasan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s