Yang menyebabkan seseorang tidak mampu mengikhlaskan mantan adalah kegagalan pikiran menyadari akan hukum keutuhan. Maksudnya, hanya mau mendapatkan, dan tidak mau melepaskan. Hanya mau bertemu dan terus bersama, dan menolak perpisahan, serta kesendirian. Padahal untuk hidup dibutuhkan keduanya.
Napas mengingatkan saya akan hukum keutuhan ini. Manusia hidup karena menarik napas, mendapatkan, lalu menghembuskan napas, melepaskan. Bisa bayangkan kalau manusia terus-terusan hanya menarik napas, mendapatkan? Manusia tidak akan bisa hidup kalau maunya hanya menarik napas, mendapatkan.
Jadi kalau memang berniat hidup dan ikhlas melepaskan mantan, saya butuh melatih pikiran menyadari bahwa diri ini tidak bisa melarikan diri dari hukum keutuhan.
Ada waktunya mendapatkan seseorang tercinta, ada waktunya ikhlas melepaskannya. Ketika pasangan hidup memiliki kelebihan, ia akan selalu disertai dengan kekurangan. Gembira selalu diikuti dengan sedih. Di mana ada puncak gunung, di situ ada jurang. Bahkan semakin tinggi gunung, maka jurangnya pun pasti semakin curam dan dalam.
Saya sepakat dengan kata Pramoedya Ananta Toer, “Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran …”. Begitu pun, “Ikhlas melepaskan mantan harus sudah dilakukan sejak dalam pikiran …”

Melepaskan Masa Lalu

Masa lalu yang menyakitkan memang menghadirkan luka. Tapi, dibandingkan dengan diri ini yang hadir di sini-kini, masa lalu bukanlah sesuatu yang besar, dan tidak perlu dibesar-besarkan lagi. Toh selalu tidak ada kabar baru dari masa lalu.

masa lalu

Dengan menyadari bahwa apa pun yang terjadi di masa lalu sudah berlalu, sudah berakhir, maka deritanya pun sebaiknya sudah berakhir. Tak perlu lagi dibawa-bawa sampai sekarang, di sini-kini.

Kesadaran seperti ini mempunyai daya untuk mengubah keadaan. Dari keadaan terhimpit, terjerat, dikepung oleh penyesalan masa lalu, menjadi keadaan penuh kehangatan, yang mampu melelehkan jeruji penjara masa lalu, hingga menemukan jalan untuk keluar darinya.

Tatkala menyadari penuh bahwa masa lalu sudah berlalu, begitu pun rasa sakitnya sudah berakhir, maka muncul pemahaman … diri ini lebih tangguh dari segala pengalaman menyakitkan di masa lalu. Masa lalu yang menyakitkan sejatinya hanyalah sebuah cerita usang.

Dengan kesadaran seperti itu, saya perlahan lebih akrab dengan diri sendiri. Melihat bahwa bukan hanya diri saya sendiri yang mengalami masa lalu itu, tapi orang lain pun mengalami masa lalu serupa, bahkan mungkin lebih menderita. Saya merasa punya teman, ada yang menemani. Tidak sendirian. Ini menjadi bekal indah untuk berteman dengan diri saya sendiri. Penjara masa lalu, beserta kenangan pahit yang menyakitkan, menjadi tak penting lagi.

The 10 Virtues of the Proverbs 31 Woman

tumblr_nhixwlAkN91rzadffo1_500

The 10 Virtues of the Proverbs 31 Woman

1. Faith – A Virtuous Woman serves God with all of her heart, mind, and soul. She seeks His will for her life and follows His ways. (Proverbs 31: 26, Proverbs 31: 29 – 31, Matthew 22: 37, John 14: 15, Psalm 119: 15

2. Marriage – A Virtuous Woman respects her husband. She does him good all the days of her life. She is trustworthy and a helpmeet. (Proverbs 31: 11- 12, Proverbs 31: 23, Proverbs 31: 28, 1 Peter 3, Ephesians 5, Genesis2: 18)

3.  Mothering – A Virtuous Woman teaches her children the ways of her Father in heaven. She nurtures her children with the love of Christ, disciplines them with care and wisdom, and trains them in the way they should go. (Proverbs 31: 28, Proverbs 31: 26, Proverbs 22: 6, Deuteronomy 6, Luke 18: 16)

4. Health – A Virtuous Woman cares for her body. She prepares healthy food for her family. (Proverbs 31: 14 – 15, Proverbs 31: 17, 1 Corinthians 6: 19, Genesis 1: 29, Daniel 1, Leviticus 11)

5. Service – A Virtuous Woman serves her husband, her family, her friends, and her neighbors with a gentle and loving spirit. She is charitable. (Proverbs 31: 12, Proverbs 31: 15, Proverbs 31: 20, 1 Corinthians 13: 13)

6. Finances – A Virtuous Woman seeks her husband’s approval before making purchases and spends money wisely. She is careful to purchase quality items which her family needs. (Proverbs 31: 14, Proverbs 31: 16, Proverbs 31: 18, 1 Timothy 6: 10, Ephesians 5: 23, Deuteronomy 14: 22, Numbers 18: 26)

7.  Industry – A Virtuous Woman works willingly with her hands. She sings praises to God and does not grumble while completing her tasks. (Proverbs 31: 13, Proverbs 31: 16, Proverbs 31: 24, Proverbs 31: 31, Philippians 2: 14)

8. Homemaking – A Virtuous Woman is a homemaker. She creates an inviting atmosphere of warmth and love for her family and guests. She uses hospitality to minister to those around her. (Proverbs 31: 15, Proverbs 31: 20 – 22, Proverbs 31: 27, Titus 2: 5, 1 Peter 4: 9, Hebrews 13: 2)

9. Time – A Virtuous Woman uses her time wisely. She works diligently to complete her daily tasks. She does not spend time dwelling on those things that do not please the Lord. (Proverbs 31: 13, Proverbs 31: 19, Proverbs 31: 27, Ecclesiastes 3, Proverbs 16: 9, Philippians 4:8 )

10. Beauty – A Virtuous Woman is a woman of worth and beauty. She has the inner beauty that only comes from Christ. She uses her creativity and sense of style to create beauty in her life and the lives of her loved ones. (Proverbs 31: 10Proverbs 31: 21 – 22, Proverbs 31: 24 -25, Isaiah 61: 10, 1 Timothy 2: 9, 1 Peter 3: 1 – 6)

Lowest Point

tumblr_o29h4wIAMu1sj7j0lo1_1280

If Joseph had not been sold as a slave by his brothers, he would not have ended up in Potiphar’s house. If he had not been in Potiphar’s house, he would not have been thrown into prison. If he had not been thrown into prison, he would not have interpreted the dreams of Pharaoh’s officers and then be summoned to interpret Pharaoh’s dreams and eventually be promoted to become prime minister over the Egyptian empire.

If you think you are at the lowest point in your life today, God is telling you, “Don’t give up. It isn’t over!” Just like Joseph in the Bible, God can make the lowest point in your life the launching pad for one of His greatest callings.

Travel Alone

Aku suka kata-kata ini:

“Travel can be one of the most rewarding forms on introspection”

Aku lebih memilih menyebutnya private escape atau menyepi. Sesi introspeksi, mendiamkan semua pertanyaan dan amarah, memilah semuanya satu per satu dengan penuh kejujuran dengan diri anda sendiri. Menyepi bagi saya adalah saat dimana saya tidak membutuhkan siapapun menemani perjalanan ini.

Saya pribadi suka sekali dengan pantai dan senja. 2 hal yang paling bisa membuat saya nyaman dan bisa menjadi alat untuk menyaurkan berbagai hal yang saya pikirkan. Jadi, saya pun akan memilih tempat dimana 2 hal ini bisa diakkmodasi dengan maksimal. Satu hal lagi: saya suka tempat yang tidak begitu ramai dan memiliki ruang privasi yang luas sehingga saya bisa untuk merasakan sesi ini sebagai sesi untuk saya dan bukan untuk beramai-ramai ditengah kegaduhan kota.

PhotoGrid_1461597732934
My Travel Alone Session. Captured by Jeni Karay

Tujuannya sederhana: Bagaimana anda netral melihat kehidupan tanpa ada intervensi oleh orang-orang terdekat anda. Anda bisa memutuskan kemana saja anda ingin pergi, ataupun hanya menulis jurnal anda di kamar. Atau bisa memilih aktivitas seperti saya: menangis sesuka hati, tanpa harus menjaga wibawa didepan orang-orang yang dekat dengan saya. Bagi saya menyepi ini memberikan saya ruang untuk menahan diri, menyendiri untuk mencari apa sebenarnya apa sih yang ingin saya lakukan dalam hidup. Apakah orang-orang yang menyakiti saya layak untuk saya pertahankan dalam kehidupan ataukah ini saatnya untuk meninggalkan mereka dan melanjutkan perjalanan.

Menyepi mengajarkan saya untuk menyerahkan suatu titik kehidupan kepada waktu. Anda akan terpesona bagaimana waktu dapat mengendapkan suatu isu dan memunculkan apa sebenarnya yang terjadi. Tidak semua hal bisa diselesaikan dengan waktu yang berjalan karna waktu hanya menguraikan sebuah babak kehidupan. Yang memutuskan apakah babak itu mempengaruhi kita atau tidak, adalah keputusan diri kita sendiri. Maukah kita semakin melukai hati, atau sudah saatnya melihat titik masalah hanya sebagai pendewasaan untuk menggapai masa depan cerah yang membentang.

Percayalah. Anda akan terpesona bagaimana ketika anda pergi dan kemudian kembali, ada sudut pandang dalam diri anda yang berubah. Bukan menjadi suatu hal yang melelahkan hati, namun anda bisa menghadapinya dengan kepala dingin. Hal ini menghindari respon anda yang dapat melukai orang-orang disekeliling anda. Daripada berbicara dengan mengeluarkan kata-kata menyakitkan, sudah saatnya kita mulai berpikir bagaimana menghadapi setiap hal dengan cara yang elegan.

pergi Menyendiri membuat saya untuk melihat seberapa besar tenaga yang sudah saya keluarkan untuk sebuah hal atau masalah. Apakah sebegitu signifikannya kah untuk menguras tenaga saya? Apa langkah selanjutnya yang bisa saya lakukan bila hal ini kembali terjadi? Bagaimana sikap hati saya untuk merespon apa yang selanjutnya terjadi? Pertanyaan-pertanyaan ini hanya dapat anda pikirkan dengan matang ketika anda berdiri seorang diri. Bukan kata orang tua, gebetan, sahabat atau teman anda. Tapi apa yang diri anda sendiri inginkan.

Menyendiri adalah cara saya untuk mengembalikan tenaga saya. Setelah didera berbagai kejadian, hal yang mungkin tidak sepenuhnya sesuai dengan yang saya rencanakan, menyendiri memberikan saya pilihan untuk mengevaluasi berbagai hal.

Tidak selamanya menyendiri itu buruk. Kita butuh untuk berdiri seorang diri ditengah keramaian untuk memahami siapa sebenarnya diri kita sendiri. Apa sebenarnya yang diinginkan oleh hati kita.

Make Prayer A Priority

I’ve heard it said that the first 10 or 15 minutes of each day really determine how the rest of your day will go. And if you begin your day in prayer, acknowledging God as first in your life, you are making a wise choice.

Too often, rather than putting Jesus Christ first in our lives, we allow many other thoughts and “things” to consume us. But Scripture reminds us that anything we love more, serve more, or worship more than Jesus Himself is idolatry, plain and simple! Jesus will not share His place of Lordship in our lives. So before you pray, before you start asking, make sure that you’re practicing the principle of putting God first.

I know life can be busy. I know obligations must be met. I’m just suggesting that before we tend to our responsibilities, we should devote ourselves to God in prayer. I need that, and so do you.

Each of us needs a set-aside, set-apart encounter with the living God at key moments throughout our day in order to navigate this thing called life. There can be no answered prayers until we’re willing to spend time kneeling before God to receive what He delights and desires to give. Keeping our focus on God through prayer reaps great rewards.

Are you making prayer a priority in your life? Do you give Jesus the first thoughts of your day? Tomorrow, before your feet hit the floor, lift your heart up to God in adoration and praise, thanking Him for the light of a new day.

Find peace, purpose and strength with Jesus in prayer.

Source : Bible Youversion Devotion

Pentingnya Berdiam Diri

Sebagai profesional muda, setiap saat, setiap detik, setiap hari, informasi selalu membanjiri kehidupan kita. Televisi, radio, baliho, pamflet, notifikasi ponsel dan masih banyak lagi. Dari waktu anda bangun diwaktu pagi hingga tertidur kembali di malam hari, informasi tidak henti-hentinya mengalir. Kehidupan yang penuh dengan kesibukan bahkan menjadi kebanggaan dan penanda bahwa seseorang begitu “penting” dalam dunia profesinya.

Tapi, pernahkah anda mengalami begitu amat sangat lelah dengan informasi yang mengalir setiap saat? Saat menyelesaikan aktifitas anda seharian, ada rasa kelelahan secara batin. Seolah dari hari ke hari, anda semakin mengosongkan diri untuk hal-hal yang berada di sekeliling kehidupan anda.

Kadang, setiap liburan panjang atau weekend tiba, kita begitu bahagia bisa menghilang sementara dari kesibukan dunia kita. Merasa begitu bebas dan bahagia. Kita menganggap liburan sebagai ajang untuk “mengisi kembali” semangat kita. Tapi lucunya, waktu kita kembali ke kehidupan pekerjaan, tidak jarang kita menjadi lesu kembali. Tidak bersemangat. Berharap hari libur dan weekend datang kembali.

Bila perasaan seperti ini mulai anda alami, sudah saatnya anda untuk beristirahat sejenak dengan berdiam diri. Kenapa harus berdiam diri? Jawabannya simpel. Untuk menata kembali dan mengevaluasi diri kita dari setiap hal yang sudah dilakukan. Entah itu dalam hal pekerjaan, kesehatan, pendidikan ataupun relasi. Berdiam diri memberikan waktu bagi diri kita sendiri untuk merenungi, mengevaluasi, menertawakan hal-hal bodoh yang sudah dilakukan, sedikit tangis untuk hal yang belum diakhiri dengan baik, menanamkan goal baru yang menjadi fokus ke depan dan mengumpulkan tekad untuk kembali ke perjalanan kehidupan. Bila anda berada di posisi decision maker, berdiam diri menjadi hal yang tepat saat harus mengambil keputusan penting. Karna hanya dengan membiarkan diri anda sendiri, berpikir, menelaah, anda akan berada dalam posisi netral tanpa intervensi pikiran orang lain dalam memutukan suatu kebijakan.

 Saat kita menyempatkan diri kita untuk menyendiri, saat itu juga kita menutrisi diri kita untuk menjadi orang yang bisa belajar mengendalikan dirinya sendiri. Sebagai catatan bagi pembaca, berdiam diri disini bukan untuk mengosongkan pikiran ataupun menghayal yah.. Jika anda orang yang beragama, berdiam diri bisa menjadi tempat evaluasi diri dan berbicara secara terbuka dengan Tuhan. Selamat berproses dalam sekolah kehidupan.