Lilin-lilin kecil yang bersinar dimanapun mereka berada

Hai readers,

dalam tulisan kali ini saya repostkan postingan dari teman-teman BUP tentang kampanye gemar membaca. Untuk kampanya ke 32 ini, yang dipostingkan tentang profilnya Jeni. Semoga bisa jadi pelajaran bagi para readers yah 🙂

12473686_988992311149806_1025069159263352091_o.png

Kesukaan membaca itu sudah ada sejak kecil, mungkin karena orang tua saya adalah dosen di salah satu universitas swasta di Papua dan mama yang juga adalah guru SD di Jayapura, jadinya tiap hari selalu saja ada buku bacaan atau koran yang diletakkan diatas meja. Dari hal-hal sederhana itulah timbul rasa ingin tahu untuk membaca ataupun hanya untuk melihat gambar-gambar ilustrasi dalam buku-buku yang ada. Dari semua buku yang saya baca, yang selalu jadi favorit dan selalu menjadi “ritual keluarga” setiap perayaan natal tiap tahun adalah salah satu karya klasik Charles Dickens [1], Christmas Carol [2]. Memang sih buku ini jadul sekali. Tapi esensi tentang nilai kehidupan dalam ceritanya selalu abadi untuk mengingatkan agar terus rendah hati, mau berbagi dan memiliki jiwa sosial kepada yang lain. Jadi secara tidak langsung, buku ini selalu jadi pengingat pribadi saya beserta seluruh keluarga untuk tidak lupa dengan orang-orang disekitar kami.

Apalagi ada cerita – cerita yang selalu diceritakan oleh orang tua saya sejak masih kecil yang ternyata kalau saya pikir – pikir itu mereka gunakan untuk mengajarkan saya tentang etika, nilai-nilai kehidupan positif sejak usia dini. Cerita – cerita yang saya masih ingat antara lain ada Charlotte’s Web, Oliver Twist, Matilda, Pinoccchio, The Wizard of Oz, Sleeping Beauty. Menyukai membaca dan mendapatkan manfaatnya melalui diingatkan agar terus peduli membuat saya mempunyai panggilan untuk berkontribusi pada pengembangan masyarakat, itu sebabnya sembari belajar saya juga aktif di beberapa aktivitas sosial antara lain Untuk saat ini saya berperan sebagai konsultan komunikasi untuk komunitas anak-anak muda di kota Jayapura. Selain itu, sekarang ini saya melanjutkan kuliah di Salatiga, dan disana saya bergabung bersama teman-teman LIGHT community yang fokus untuk menjadi partner bagi para peyintas kanker di kota Salatiga.

Anak Papua yang gemar membaca itu saya singkat dengan satu kata: Mantap.

Kenapa? Karna hanya orang yang suka membacalah yang dapat mantap memandang apa yang ingin dicapainya dalam hidup. Hanya anak Papua yang gemar membaca lah yang dapat dengan mantap mengetahui apa yang ingin dicapainya di masa depan. Hanya orang yang suka membacalah yang dapat beradaptasi dengan perubahan jaman dan dapat menjadi champion (juara) menghadapi tiap tantangan dalam kehidupannya.

Bayangkan saja kalau ada 100 anak Papua yang suka membaca dan benar-benar menekuni hal yang spesifik disukainya. Saya percaya hal itu akan membawa perubahan signifikan bagi Papua yang lebih baik. Berbagai prestasi yang saya dapatkan selama studi maupun diluar studi berasal dari kesukaan saya untuk membaca berbagai literatur. Buku juga selama ini membawa saya berkeliling Indonesia tanpa biaya sepeserpun yang saya keluarkan. Asik kan? Yuk, budayakan membaca. Setiap detik yang kita keluarkan untuk membaca, tidak pernah terbuang percuma (yang penting jangan yang dibaca itu cuman postingannya gebetan atau status update di sosmed yaah )
Semoga dengan kecintaan pada buku, bisa membangkitkan banyak anak-anak Papua yang akhirnya menjadi lilin-lilin kecil yang bersinar dimanapun mereka berada. (Pitohabi)

Jeni Beatrix Karay
Mahasiswi S2 Sistem Informasi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, sebelumnya bekerja sebagai Communication Officer dan Program Officer untuk provinsi Papua dan Papua Barat untuk program kerja sama Australia dan Indonesia (AIPD dan KOMPAK).

[1] Charles John Huffam Dickens (lahir di Landport, Portsmouth, Hampshire, Inggris, 7 Februari 1812 – meninggal di Tempat Bukit Gad, Higham, Kent, Inggris, 9 Juni 1870 pada umur 58 tahun) adalah seorang penulis roman atau novel ternama dari Inggris dari masa pemerintahan Ratu Victoria dari Britania Raya.
Dickens bahkan sampai sekarang masih populer dan semua bukunya masih bisa dibeli. Banyak dari buku-buku juga sudah dibuat menjadi film. Sepanjang kariernya Dickens mencapai popularitas mendunia, mendapatkan reputasi untuk cara menulis cerita yang sangat baik dan untuk tokoh-tokoh ceritanya. Ia dianggap sebagai salah satu penulis Inggris yang paling penting. Dia adalahnovelis yang paling terkenal dan terbaik di era Victorian dan juga seseorang yang aktif melakukan perkerjaan sosial. https://id.wikipedia.org/wiki/Charles_Dickens

[2] Christmas Carol adalah sebuah buku yang menceritakan tentang kisah pria tua yang selain kikir, juga membenci Natal bernama Ebenezeer Scrooge. Di mana pada malam natal, ada hantu Marley menampakkan diri kepada Scrooge. Marley adalah partner kerja Scrooge yang telah meninggal dunia. Hantu Marley memperingatkan bahwa Scrooge akan didatangi oleh tiga sosok hantu; Hantu Natal Masa Lalu (Ghost of Christmas Past), Hantu Natal Masa Kini (Ghost of Christmas Present), dan Hantu Natal Masa Depan (Ghost of Christmas Yet to Come). Setiap hantu akan membawa Scrooge dalam perjalanan menembus waktu dan tempat, di mana ia akan memperoleh pelajaran untuk mengubah dirinya, bagaimana ia bersikap terhadap orang lain, dan bagaimana ia menggunakan uang yang dimilikinya untuk membantu mereka yang miskin. https://surgabukuku.com/…/review-a-christmas-carol-and-the…/

‪#‎GemarMembaca_32‬
‪#‎PapuaCerdas‬ ‪#‎PapuaMembaca‬ ‪#‎AnakPapuaGemarMembaca‬
‪#‎CopyrightBukuntukpapua‬

Sumber: https://www.facebook.com/Bukuntukpapua/posts/988992311149806:0

When You Get Back

DSC_0759
People at Amai Beach, Papua. Captured by Jeni Karay

And so my prayer is that your story will have involved some leaving and some coming home, some summer and some winter, some roses blooming out like children in a play. My hope is your story will be about changing, about getting getting something beautiful born inside you about learning to love a woman or a man, about learning to love a child, about moving yourself around water, around mountains, around friends, about learning to love others more than we love ourselves, about learning oneness as a way of understanding God.

We get one story, you and I, and one story alone. God has established the elements, the setting and the climax and the resolution. It would be a crime not to venture out, wouldn’t it? It might be time for you to go. It might be time to change, to shine out. I want to repeat one word for you: Leave. Roll the word around on your tounge for a bit. It is a beautiful word, isn’t it? So strong and forceful, the way you have always wanted to be. And you will not be alone. You have never been alone. Don’t worry. Everything will still be here when you get back. It is you who will have changed.

Suara Kemiskinan

Aku adalah Papua, aku adalah Maluku,
Akulah Nusa Tenggara, akulah Sulawesi,
Suara dari kemiskinan, yang tak pernah berujung,
Semenjak Republik ini berdiri.

Tanah kami tanah kaya, laut kami laut kaya,
Kami tidur diatas emas, berenang diatas minyak,
Tapi bukan kami punya, semua anugerah itu,
Kami cuma berdagang, buah-buah pinang.

Kami tak mau bersalah, pada anak-anak cucu,
Harus ada perubahan, harus ada perubahan,

(Suara Kemiskinan ~Franky Sahilatua)

I heart KTI.

View on Path

Pagi dan Aku

Captured by Jeni Karay

Tersenyum simpul memundak harap

Pagi masih muda, dapur mengepul

Rapih melangkah menggapai masa

Cita kutitip dalam jiwa,doa kuayunkan bersama langkah kaki

Jiwa tersenyum,polos bersama kawan sebangku

Kelas menanti, Guru tersenyum, aku siap

Mari membuka harap dalam lembar

Melawan malas, melawan kemiskinan

Duduk manis meresap ilmu

Semoga kelak aku membanggakanmu, hai Ayah dan Ibu