Visi vs Karakter

tumblr_o2oz0bUaek1rsyukao1_1280

Dulu. Jalam dahulu kala (halah) pikirku visi adalah segalanya. Dampak dari visi itu begitu sistematis. Dengan mengetahui apa yang menjadi visi hidupmu, kau akan memilah kepada siapa kau menginvestasikan waktu, tenaga, pikiran ataupun dirimu secara keseluruhan. Mungkin karna dulu saya selalu dikelilingi orang yang berbeda visi sehingga visi menjadi beegitu signifikan.

waktu berjalan, maju tanpa ampun. Kini visi yang sama bukanlah menjadi permasalahan signifikan. Entah kenapa kehidupan slalu punya cara unik untuk menarik setiap orang yang memiliki visi yang sama denganmu. Seperti magnet. Masalah baru muncul berikutnya: di tengah banyak orang yang memiliki visi yang sama denganmu, ternyata mereka memiliki karakter yang tidak sebegitu indah dengan visi mereka. Beberapa yang kutemukan memiliki karakter 180 derajat dari visi mereka.

See? Dulu masalah yang terbesar adalah visi. Ketika kau bertemu dengan banyak orang sevisi, masalahnya adalah karakter. Ada orang-orang yang kutemui masih dalam proses mencari jati diri dan kadang ada yang hanya menjawab dengan jawaban diplomatis super gag jelas: “visiku adalah membahagiakanmu (jawaban paling konyol dan tidak logis. Salah bila seseorang menggunakan kalimat ini untuk merayu)”. Apa gunakanya visi tanpa karakter yang mengimbanginya? Apa gunanya karakter tanpa visi yang menjaga ritmenya?

manakah yang akan kau pilih? Karakter ataukah yang Bervisi? Alangkah sempurnya bila yang hadir merupakan perpaduan antara keduanya. Suatu hari nanti.

The 10 Virtues of the Proverbs 31 Woman

tumblr_nhixwlAkN91rzadffo1_500

The 10 Virtues of the Proverbs 31 Woman

1. Faith – A Virtuous Woman serves God with all of her heart, mind, and soul. She seeks His will for her life and follows His ways. (Proverbs 31: 26, Proverbs 31: 29 – 31, Matthew 22: 37, John 14: 15, Psalm 119: 15

2. Marriage – A Virtuous Woman respects her husband. She does him good all the days of her life. She is trustworthy and a helpmeet. (Proverbs 31: 11- 12, Proverbs 31: 23, Proverbs 31: 28, 1 Peter 3, Ephesians 5, Genesis2: 18)

3.  Mothering – A Virtuous Woman teaches her children the ways of her Father in heaven. She nurtures her children with the love of Christ, disciplines them with care and wisdom, and trains them in the way they should go. (Proverbs 31: 28, Proverbs 31: 26, Proverbs 22: 6, Deuteronomy 6, Luke 18: 16)

4. Health – A Virtuous Woman cares for her body. She prepares healthy food for her family. (Proverbs 31: 14 – 15, Proverbs 31: 17, 1 Corinthians 6: 19, Genesis 1: 29, Daniel 1, Leviticus 11)

5. Service – A Virtuous Woman serves her husband, her family, her friends, and her neighbors with a gentle and loving spirit. She is charitable. (Proverbs 31: 12, Proverbs 31: 15, Proverbs 31: 20, 1 Corinthians 13: 13)

6. Finances – A Virtuous Woman seeks her husband’s approval before making purchases and spends money wisely. She is careful to purchase quality items which her family needs. (Proverbs 31: 14, Proverbs 31: 16, Proverbs 31: 18, 1 Timothy 6: 10, Ephesians 5: 23, Deuteronomy 14: 22, Numbers 18: 26)

7.  Industry – A Virtuous Woman works willingly with her hands. She sings praises to God and does not grumble while completing her tasks. (Proverbs 31: 13, Proverbs 31: 16, Proverbs 31: 24, Proverbs 31: 31, Philippians 2: 14)

8. Homemaking – A Virtuous Woman is a homemaker. She creates an inviting atmosphere of warmth and love for her family and guests. She uses hospitality to minister to those around her. (Proverbs 31: 15, Proverbs 31: 20 – 22, Proverbs 31: 27, Titus 2: 5, 1 Peter 4: 9, Hebrews 13: 2)

9. Time – A Virtuous Woman uses her time wisely. She works diligently to complete her daily tasks. She does not spend time dwelling on those things that do not please the Lord. (Proverbs 31: 13, Proverbs 31: 19, Proverbs 31: 27, Ecclesiastes 3, Proverbs 16: 9, Philippians 4:8 )

10. Beauty – A Virtuous Woman is a woman of worth and beauty. She has the inner beauty that only comes from Christ. She uses her creativity and sense of style to create beauty in her life and the lives of her loved ones. (Proverbs 31: 10Proverbs 31: 21 – 22, Proverbs 31: 24 -25, Isaiah 61: 10, 1 Timothy 2: 9, 1 Peter 3: 1 – 6)

Travel Alone

Aku suka kata-kata ini:

“Travel can be one of the most rewarding forms on introspection”

Aku lebih memilih menyebutnya private escape atau menyepi. Sesi introspeksi, mendiamkan semua pertanyaan dan amarah, memilah semuanya satu per satu dengan penuh kejujuran dengan diri anda sendiri. Menyepi bagi saya adalah saat dimana saya tidak membutuhkan siapapun menemani perjalanan ini.

Saya pribadi suka sekali dengan pantai dan senja. 2 hal yang paling bisa membuat saya nyaman dan bisa menjadi alat untuk menyaurkan berbagai hal yang saya pikirkan. Jadi, saya pun akan memilih tempat dimana 2 hal ini bisa diakkmodasi dengan maksimal. Satu hal lagi: saya suka tempat yang tidak begitu ramai dan memiliki ruang privasi yang luas sehingga saya bisa untuk merasakan sesi ini sebagai sesi untuk saya dan bukan untuk beramai-ramai ditengah kegaduhan kota.

PhotoGrid_1461597732934
My Travel Alone Session. Captured by Jeni Karay

Tujuannya sederhana: Bagaimana anda netral melihat kehidupan tanpa ada intervensi oleh orang-orang terdekat anda. Anda bisa memutuskan kemana saja anda ingin pergi, ataupun hanya menulis jurnal anda di kamar. Atau bisa memilih aktivitas seperti saya: menangis sesuka hati, tanpa harus menjaga wibawa didepan orang-orang yang dekat dengan saya. Bagi saya menyepi ini memberikan saya ruang untuk menahan diri, menyendiri untuk mencari apa sebenarnya apa sih yang ingin saya lakukan dalam hidup. Apakah orang-orang yang menyakiti saya layak untuk saya pertahankan dalam kehidupan ataukah ini saatnya untuk meninggalkan mereka dan melanjutkan perjalanan.

Menyepi mengajarkan saya untuk menyerahkan suatu titik kehidupan kepada waktu. Anda akan terpesona bagaimana waktu dapat mengendapkan suatu isu dan memunculkan apa sebenarnya yang terjadi. Tidak semua hal bisa diselesaikan dengan waktu yang berjalan karna waktu hanya menguraikan sebuah babak kehidupan. Yang memutuskan apakah babak itu mempengaruhi kita atau tidak, adalah keputusan diri kita sendiri. Maukah kita semakin melukai hati, atau sudah saatnya melihat titik masalah hanya sebagai pendewasaan untuk menggapai masa depan cerah yang membentang.

Percayalah. Anda akan terpesona bagaimana ketika anda pergi dan kemudian kembali, ada sudut pandang dalam diri anda yang berubah. Bukan menjadi suatu hal yang melelahkan hati, namun anda bisa menghadapinya dengan kepala dingin. Hal ini menghindari respon anda yang dapat melukai orang-orang disekeliling anda. Daripada berbicara dengan mengeluarkan kata-kata menyakitkan, sudah saatnya kita mulai berpikir bagaimana menghadapi setiap hal dengan cara yang elegan.

pergi Menyendiri membuat saya untuk melihat seberapa besar tenaga yang sudah saya keluarkan untuk sebuah hal atau masalah. Apakah sebegitu signifikannya kah untuk menguras tenaga saya? Apa langkah selanjutnya yang bisa saya lakukan bila hal ini kembali terjadi? Bagaimana sikap hati saya untuk merespon apa yang selanjutnya terjadi? Pertanyaan-pertanyaan ini hanya dapat anda pikirkan dengan matang ketika anda berdiri seorang diri. Bukan kata orang tua, gebetan, sahabat atau teman anda. Tapi apa yang diri anda sendiri inginkan.

Menyendiri adalah cara saya untuk mengembalikan tenaga saya. Setelah didera berbagai kejadian, hal yang mungkin tidak sepenuhnya sesuai dengan yang saya rencanakan, menyendiri memberikan saya pilihan untuk mengevaluasi berbagai hal.

Tidak selamanya menyendiri itu buruk. Kita butuh untuk berdiri seorang diri ditengah keramaian untuk memahami siapa sebenarnya diri kita sendiri. Apa sebenarnya yang diinginkan oleh hati kita.

image
Captured by Jeni Karay

Kalau aku..
Aku jatuh cinta.
Aku jatuh cinta pada seseorang yang hanya sanggup aku gapai sebatas punggungnya saja.
Seseorang yang hanya sanggup aku nikmati bayangannya tapi takkan pernah bisa aku miliki.
Seseorang yang hadir bagaikan bintang jatuh.
Sekelebat, kemudian menghilang begitu saja.
Tanpa sanggup tangan ini mengejarnya.
Seseorang yang hanya bisa aku kirimi isyarat sehalus udara, langit, awan, atau hujan.

~Dee, Rectoverso

Ada Hari

Screenshot_2016-04-22-04-31-20-1
Ocean is my Perfect Remedy

Ada hari dimana kau begitu mudah untuk dicintai

Begitu sederhana untuk dipahami

Ada hari dimana semua berjalan begitu alami,

tidak dibutuhkan begitu usaha yang besar untuk memahamimu

dalam diammu pun aku tidak keberatan

Kemudian datanglah hari-hari dimana kau menjadi begitu kompleks untuk dipahami

Seperti kau membangun tembok tak kasat mata untuk menjauhkanku darimu

Entah kau sadari atau tidak

Sikap, perilaku bahkan hal-hal sederhana yang kau sadari namun mereka adalah detail yang selalu aku perhatikan

Seringkali tembok itu tak ada. Hanya saja banyak orang diluar sana yang mengharapkan aku menjauh darimu dengan berbagai alasan

Apakah kau pria yang jahat?

Menurut mereka, iya. Namun bagiku, tidak.

Apakah mereka lebih mengenalmu dari aku? Mungkin

Tapi mereka tidak mengenal bagian dirimu yang aku kenal

Aku di titik ini tidak menyerah

Tidak berusaha untuk mengendorkan apapun yang ada diantara kita

Bila ini badai, aku suka badai ini

Karna tidak ada satu hal pun dalam hidup ini yang tidak diuji oleh badai.