Dear Future Me

CSC_0299-2

Dear Future Me, 

I hope that today you are the person you always set out to be. I hope you accomplished everything that they said you could never do. How many lives do you change in a day? Do you speak out for what is right, or sit there regretting your silence? I hope you are what I’m not. I hope you speak out with such a voice that everyone around you can hear it even when you aren’t speaking. I want you to have power in the way you speak- giving light into someone’s world filled with darkness. I hope you live as if you are the only one capable of making a difference, and embracing that ability in the best way possible. You don’t need to have your name written in the text of a history book, but you need to live to make your words give life to the ones who thought they didn’t deserve one. When you read this letter, I hope you are somewhere where all of you previous goals can be made accomplishments.

I hope you still remember your past, and pass on your story to those who need to hear it most- to show them that they are not alone. I hope you achieved that brighter, happier life you used to daydream about when you were younger. I hope all of your dreams became your reality, and I hope that eventually your nightmares dissolved into the depths of your past- never haunting you again. I hope that you one day took off the mask that hid the truth. That you broke down the barriers you built, and learned to trust someone- really trust them- somewhere along your journey. I hope that you look in the mirror with a small, true smile and be proud of what you see. I hope that you learned to break through the surface of the water drowning you- anxiety.

I hope that you now see the world from a whole new perspective, and learned to enjoy the sun more than the rain.. Most of all, I hope you learned to speak. To speak in such a voice that must be heard; a voice that embroiders your words onto a heart that needed them most. I hope you are happy, and teach ones who are like the old you to be happy as well. I hope that today you are the person you always set out to be.

Sincerely,
Your Past

 

Travel Alone

Aku suka kata-kata ini:

“Travel can be one of the most rewarding forms on introspection”

Aku lebih memilih menyebutnya private escape atau menyepi. Sesi introspeksi, mendiamkan semua pertanyaan dan amarah, memilah semuanya satu per satu dengan penuh kejujuran dengan diri anda sendiri. Menyepi bagi saya adalah saat dimana saya tidak membutuhkan siapapun menemani perjalanan ini.

Saya pribadi suka sekali dengan pantai dan senja. 2 hal yang paling bisa membuat saya nyaman dan bisa menjadi alat untuk menyaurkan berbagai hal yang saya pikirkan. Jadi, saya pun akan memilih tempat dimana 2 hal ini bisa diakkmodasi dengan maksimal. Satu hal lagi: saya suka tempat yang tidak begitu ramai dan memiliki ruang privasi yang luas sehingga saya bisa untuk merasakan sesi ini sebagai sesi untuk saya dan bukan untuk beramai-ramai ditengah kegaduhan kota.

PhotoGrid_1461597732934
My Travel Alone Session. Captured by Jeni Karay

Tujuannya sederhana: Bagaimana anda netral melihat kehidupan tanpa ada intervensi oleh orang-orang terdekat anda. Anda bisa memutuskan kemana saja anda ingin pergi, ataupun hanya menulis jurnal anda di kamar. Atau bisa memilih aktivitas seperti saya: menangis sesuka hati, tanpa harus menjaga wibawa didepan orang-orang yang dekat dengan saya. Bagi saya menyepi ini memberikan saya ruang untuk menahan diri, menyendiri untuk mencari apa sebenarnya apa sih yang ingin saya lakukan dalam hidup. Apakah orang-orang yang menyakiti saya layak untuk saya pertahankan dalam kehidupan ataukah ini saatnya untuk meninggalkan mereka dan melanjutkan perjalanan.

Menyepi mengajarkan saya untuk menyerahkan suatu titik kehidupan kepada waktu. Anda akan terpesona bagaimana waktu dapat mengendapkan suatu isu dan memunculkan apa sebenarnya yang terjadi. Tidak semua hal bisa diselesaikan dengan waktu yang berjalan karna waktu hanya menguraikan sebuah babak kehidupan. Yang memutuskan apakah babak itu mempengaruhi kita atau tidak, adalah keputusan diri kita sendiri. Maukah kita semakin melukai hati, atau sudah saatnya melihat titik masalah hanya sebagai pendewasaan untuk menggapai masa depan cerah yang membentang.

Percayalah. Anda akan terpesona bagaimana ketika anda pergi dan kemudian kembali, ada sudut pandang dalam diri anda yang berubah. Bukan menjadi suatu hal yang melelahkan hati, namun anda bisa menghadapinya dengan kepala dingin. Hal ini menghindari respon anda yang dapat melukai orang-orang disekeliling anda. Daripada berbicara dengan mengeluarkan kata-kata menyakitkan, sudah saatnya kita mulai berpikir bagaimana menghadapi setiap hal dengan cara yang elegan.

pergi Menyendiri membuat saya untuk melihat seberapa besar tenaga yang sudah saya keluarkan untuk sebuah hal atau masalah. Apakah sebegitu signifikannya kah untuk menguras tenaga saya? Apa langkah selanjutnya yang bisa saya lakukan bila hal ini kembali terjadi? Bagaimana sikap hati saya untuk merespon apa yang selanjutnya terjadi? Pertanyaan-pertanyaan ini hanya dapat anda pikirkan dengan matang ketika anda berdiri seorang diri. Bukan kata orang tua, gebetan, sahabat atau teman anda. Tapi apa yang diri anda sendiri inginkan.

Menyendiri adalah cara saya untuk mengembalikan tenaga saya. Setelah didera berbagai kejadian, hal yang mungkin tidak sepenuhnya sesuai dengan yang saya rencanakan, menyendiri memberikan saya pilihan untuk mengevaluasi berbagai hal.

Tidak selamanya menyendiri itu buruk. Kita butuh untuk berdiri seorang diri ditengah keramaian untuk memahami siapa sebenarnya diri kita sendiri. Apa sebenarnya yang diinginkan oleh hati kita.

Lilin-lilin kecil yang bersinar dimanapun mereka berada

Hai readers,

dalam tulisan kali ini saya repostkan postingan dari teman-teman BUP tentang kampanye gemar membaca. Untuk kampanya ke 32 ini, yang dipostingkan tentang profilnya Jeni. Semoga bisa jadi pelajaran bagi para readers yah 🙂

12473686_988992311149806_1025069159263352091_o.png

Kesukaan membaca itu sudah ada sejak kecil, mungkin karena orang tua saya adalah dosen di salah satu universitas swasta di Papua dan mama yang juga adalah guru SD di Jayapura, jadinya tiap hari selalu saja ada buku bacaan atau koran yang diletakkan diatas meja. Dari hal-hal sederhana itulah timbul rasa ingin tahu untuk membaca ataupun hanya untuk melihat gambar-gambar ilustrasi dalam buku-buku yang ada. Dari semua buku yang saya baca, yang selalu jadi favorit dan selalu menjadi “ritual keluarga” setiap perayaan natal tiap tahun adalah salah satu karya klasik Charles Dickens [1], Christmas Carol [2]. Memang sih buku ini jadul sekali. Tapi esensi tentang nilai kehidupan dalam ceritanya selalu abadi untuk mengingatkan agar terus rendah hati, mau berbagi dan memiliki jiwa sosial kepada yang lain. Jadi secara tidak langsung, buku ini selalu jadi pengingat pribadi saya beserta seluruh keluarga untuk tidak lupa dengan orang-orang disekitar kami.

Apalagi ada cerita – cerita yang selalu diceritakan oleh orang tua saya sejak masih kecil yang ternyata kalau saya pikir – pikir itu mereka gunakan untuk mengajarkan saya tentang etika, nilai-nilai kehidupan positif sejak usia dini. Cerita – cerita yang saya masih ingat antara lain ada Charlotte’s Web, Oliver Twist, Matilda, Pinoccchio, The Wizard of Oz, Sleeping Beauty. Menyukai membaca dan mendapatkan manfaatnya melalui diingatkan agar terus peduli membuat saya mempunyai panggilan untuk berkontribusi pada pengembangan masyarakat, itu sebabnya sembari belajar saya juga aktif di beberapa aktivitas sosial antara lain Untuk saat ini saya berperan sebagai konsultan komunikasi untuk komunitas anak-anak muda di kota Jayapura. Selain itu, sekarang ini saya melanjutkan kuliah di Salatiga, dan disana saya bergabung bersama teman-teman LIGHT community yang fokus untuk menjadi partner bagi para peyintas kanker di kota Salatiga.

Anak Papua yang gemar membaca itu saya singkat dengan satu kata: Mantap.

Kenapa? Karna hanya orang yang suka membacalah yang dapat mantap memandang apa yang ingin dicapainya dalam hidup. Hanya anak Papua yang gemar membaca lah yang dapat dengan mantap mengetahui apa yang ingin dicapainya di masa depan. Hanya orang yang suka membacalah yang dapat beradaptasi dengan perubahan jaman dan dapat menjadi champion (juara) menghadapi tiap tantangan dalam kehidupannya.

Bayangkan saja kalau ada 100 anak Papua yang suka membaca dan benar-benar menekuni hal yang spesifik disukainya. Saya percaya hal itu akan membawa perubahan signifikan bagi Papua yang lebih baik. Berbagai prestasi yang saya dapatkan selama studi maupun diluar studi berasal dari kesukaan saya untuk membaca berbagai literatur. Buku juga selama ini membawa saya berkeliling Indonesia tanpa biaya sepeserpun yang saya keluarkan. Asik kan? Yuk, budayakan membaca. Setiap detik yang kita keluarkan untuk membaca, tidak pernah terbuang percuma (yang penting jangan yang dibaca itu cuman postingannya gebetan atau status update di sosmed yaah )
Semoga dengan kecintaan pada buku, bisa membangkitkan banyak anak-anak Papua yang akhirnya menjadi lilin-lilin kecil yang bersinar dimanapun mereka berada. (Pitohabi)

Jeni Beatrix Karay
Mahasiswi S2 Sistem Informasi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, sebelumnya bekerja sebagai Communication Officer dan Program Officer untuk provinsi Papua dan Papua Barat untuk program kerja sama Australia dan Indonesia (AIPD dan KOMPAK).

[1] Charles John Huffam Dickens (lahir di Landport, Portsmouth, Hampshire, Inggris, 7 Februari 1812 – meninggal di Tempat Bukit Gad, Higham, Kent, Inggris, 9 Juni 1870 pada umur 58 tahun) adalah seorang penulis roman atau novel ternama dari Inggris dari masa pemerintahan Ratu Victoria dari Britania Raya.
Dickens bahkan sampai sekarang masih populer dan semua bukunya masih bisa dibeli. Banyak dari buku-buku juga sudah dibuat menjadi film. Sepanjang kariernya Dickens mencapai popularitas mendunia, mendapatkan reputasi untuk cara menulis cerita yang sangat baik dan untuk tokoh-tokoh ceritanya. Ia dianggap sebagai salah satu penulis Inggris yang paling penting. Dia adalahnovelis yang paling terkenal dan terbaik di era Victorian dan juga seseorang yang aktif melakukan perkerjaan sosial. https://id.wikipedia.org/wiki/Charles_Dickens

[2] Christmas Carol adalah sebuah buku yang menceritakan tentang kisah pria tua yang selain kikir, juga membenci Natal bernama Ebenezeer Scrooge. Di mana pada malam natal, ada hantu Marley menampakkan diri kepada Scrooge. Marley adalah partner kerja Scrooge yang telah meninggal dunia. Hantu Marley memperingatkan bahwa Scrooge akan didatangi oleh tiga sosok hantu; Hantu Natal Masa Lalu (Ghost of Christmas Past), Hantu Natal Masa Kini (Ghost of Christmas Present), dan Hantu Natal Masa Depan (Ghost of Christmas Yet to Come). Setiap hantu akan membawa Scrooge dalam perjalanan menembus waktu dan tempat, di mana ia akan memperoleh pelajaran untuk mengubah dirinya, bagaimana ia bersikap terhadap orang lain, dan bagaimana ia menggunakan uang yang dimilikinya untuk membantu mereka yang miskin. https://surgabukuku.com/…/review-a-christmas-carol-and-the…/

‪#‎GemarMembaca_32‬
‪#‎PapuaCerdas‬ ‪#‎PapuaMembaca‬ ‪#‎AnakPapuaGemarMembaca‬
‪#‎CopyrightBukuntukpapua‬

Sumber: https://www.facebook.com/Bukuntukpapua/posts/988992311149806:0

How to run a brainstorm for introverts (and extroverts too)

How to run a brainstorm for introverts (and extroverts too)

TED Blog

How-to-brainstormCocktail party trivia: Brainstorming was invented in the 1930s as a practical idea-generation technique for regular use by “creatives” within the ad agency BBDO. That all changed in 1942, when Alex Osborn — the “O” in BBDO — released a book called How to Think Up and excited the imaginations of his fellow Mad Men.

Since 1942, the idea-generation technique that began life in a New York creative firm has grown into the happy kudzu of Silicon Valley startups. Somewhere near Stanford, an introvert cringes every time the idea comes up of sitting in a roomful of colleagues, drawing half-baked ideas on Post-it notes, and then pasting them to the wall for all to see. (If this is you, watch David Kelley’s TED Talk on creative confidence, followed by Susan Cain’s on the power of introverts.)

I’ve run a lot of brainstorms over the years: with designers at…

View original post 834 more words