Lihatlah Ke Timur

Edufor Students
Foto ini diambil ketika kelas Edufor Papua di daerah kampwolker, Jayapura. Captured by Jeni Karay

 

Lihatlah ke timur,

ada semangat yang tak lekang oleh gunung-gunung tinggi dan lautan yang luas.

Lihatlah ke timur,

kelak kau paham apa arti bekerja tanpa terlihat siapapun.

Lihatlah ke timur,

tempat anak-anak tetap bermimpi walah terbentur dengan kenyataan.

Lihatlah ke timur,

niscaya tanganmu dapat menjadi perpanjangan semangat kami.

Lihatlah ke timur, teman.

Kami masih ada dan terus merajut asa.

-Jeni Karay-

Advertisements

Minggu di Bulan Mei

DSC_0523

Siang ini tidak sengaja membuka-buka kembali file foto dari berbagai social media yang masih tersimpan. Berbagai foto dari jaman SMP sampai dengan S2 skarang banyak yang masih tersimpan dengan begitu rapih. Banyak hal yang telah dilewati sepanjang usia ini. Berbagai pengalaman suka dan duka datang silih berganti mewarnai langit kehidupanku. Tak habis rasa kagum karna penyertaanNya begitu sempurna menemani hingga detik kutiliskan postingan blog ini. Bila dilihat ke belakang, betapa luar biasanya kehidupan seorang manusia. Dia tidak hanya diciptakan menjadi seonggok daging yang hidup, namun memiliki tujuan, visi, dan maksud tersendiri untuk dimuntahkan ke dalam dunia.

Tidak terbayangkan semua kesempatan dan pengalaman tersebut terjadi dalam hidupku. Membentukku menjadi diriku yang sekarang. Tetap ceria dan bahagia. Entah suddah berapa banyak titik terendah dalam hidup yang telah dilewati. Entah sudah berapa banyak puncak gunung kehidupan yang telah didaki. Mengagumkan kehidupan manusia itu. Entah semua perjalanannya baik dan buruk. Penuh merona cinta ataupun air mata. Penuh kebahagiaan atau kedukaan. Semua itu indah terajut dalam kehidupan manusia.

Ah Tuhan, siapakah aku dihadapanMu. Hanya manusia biasa yang diberikan kesempatan kedua untuk hidup. Hanya seorang perempuan biasa. Namun di tanganMu, aku yang biasa ini menjadi perempuan yang luar biasa. Terima kasih untuk hidupku yang begitu indah ini.

Masih banyak yang akan dihidangkan di depannya nanti. Kagum bagaimana Dia, pemilik kehidupan merangkai segalanya. Bahagia menanti tiap pengalaman itu datang. Walau kebahagian kadang ditemani dengan kesesakan, kehilangan ditemani oleh kedatangan, air mata ditemani oleh senyum merona wajah, diri ini begitu antusias menyambutnya. Selamat datang di babak kehidupan yang baru, nona 🙂

Ketika Mencintai

DSC_1039-01

Ketika saya mencintai seseorang, saya benar-benar mencintainya, atau sebenarnya hanya cinta karena ia sesuai dengan kriteria-kriteria yang ada di kepala saya?

Kalau cinta yang hanya sebatas sesuai dengan kriteria, maka kalau sudah tidak sesuai, saya membenarkan diri untuk tak lagi mencintainya?

Misal, salah satu kriterianya adalah kulit mulus. Jadi, seiring detik yang berdetak, kulitnya menjadi keriput. Lalu saya berhak bilang saya tak lagi mencintainya karena ia berubah?

Kalau cinta saya sebatas cinta yang sesuai dengan kriteria, maka saya mencintainya dengan masih menonjolkan “aku”, memanjakan ego.

kalau memang benar-benar mencintainya, saya tak terpaku dengan deretan kriteria dan syarat yang ada di kepala saya. Seindah-indahnya cinta adalah cinta yang tanpa “aku”. Inilah cinta yang menghantarkan kepada kebahagiaan.

Melepaskan Masa Lalu

Masa lalu yang menyakitkan memang menghadirkan luka. Tapi, dibandingkan dengan diri ini yang hadir di sini-kini, masa lalu bukanlah sesuatu yang besar, dan tidak perlu dibesar-besarkan lagi. Toh selalu tidak ada kabar baru dari masa lalu.

masa lalu

Dengan menyadari bahwa apa pun yang terjadi di masa lalu sudah berlalu, sudah berakhir, maka deritanya pun sebaiknya sudah berakhir. Tak perlu lagi dibawa-bawa sampai sekarang, di sini-kini.

Kesadaran seperti ini mempunyai daya untuk mengubah keadaan. Dari keadaan terhimpit, terjerat, dikepung oleh penyesalan masa lalu, menjadi keadaan penuh kehangatan, yang mampu melelehkan jeruji penjara masa lalu, hingga menemukan jalan untuk keluar darinya.

Tatkala menyadari penuh bahwa masa lalu sudah berlalu, begitu pun rasa sakitnya sudah berakhir, maka muncul pemahaman … diri ini lebih tangguh dari segala pengalaman menyakitkan di masa lalu. Masa lalu yang menyakitkan sejatinya hanyalah sebuah cerita usang.

Dengan kesadaran seperti itu, saya perlahan lebih akrab dengan diri sendiri. Melihat bahwa bukan hanya diri saya sendiri yang mengalami masa lalu itu, tapi orang lain pun mengalami masa lalu serupa, bahkan mungkin lebih menderita. Saya merasa punya teman, ada yang menemani. Tidak sendirian. Ini menjadi bekal indah untuk berteman dengan diri saya sendiri. Penjara masa lalu, beserta kenangan pahit yang menyakitkan, menjadi tak penting lagi.

How do I learn how to be confident?

qwcdevos:
“How do I learn how to be confident?
Day 6/31
You are the light of the world. A town built on a hill cannot be hidden. Neither do people light a lamp and put it under a bowl. Instead they put it on its stand, and it gives light to everyone...

You are the light of the world. A town built on a hill cannot be hidden. Neither do people light a lamp and put it under a bowl. Instead they put it on its stand, and it gives light to everyone in the house. – Mt. 5:14-15

“There’s something different about her.” It’s a phrase that we have seen or heard at some point in our lives in a chick flick or a shampoo commercial or in a romance novel. Maybe when you hear the phrase, you automatically think about a beautiful woman walking down the street and capturing the glances of everyone she passes. Maybe you think about a woman in your life or a woman you follow on social media who seems to have discovered the fountain of youth and lives a carefree, joy-filled life. Whether you aspire to be like that woman or not, we’ve all had that moment where someone captured our attention or inspired us and all in all, it just seemed like there was something different about them.

But while we may find inspiration to have this kind of presence and confidence about ourselves, as followers of Christ, we must remember that it is only the light that comes from Jesus that truly matters. Let’s be the kind of women who radiate His light more than we radiate with what the world says is confidence. Even on the days that we’re having a great hair day, a great work day, or we’re just in a generally good mood, we’ve got to continue to let what stands out about us be the light that shines from within us because of Christ!

Also, this has nothing to do with personality. Being a light isn’t reserved for the extroverts and outgoing. God wants to use each of us in unique ways to be a light. All around you there are coworkers, classmates, friends, and family members in your life who are desperately needing to be reminded of Jesus’ love for them. Go out of your way to put others first this week. Make it a point to be that friend that encourages. This world needs more people like this. This world needs more Jesus! Let people see that you don’t stand out from the crowd because you’re super confident but because Jesus is at the center of everything you do.

Biblical context + further reading: Mt. 5:13-16

Jadilah Bijak

dsc_0643-01-01-01

Saya bertemu dengan seorang teman yang berkeluh kesah disela-sela kegiatan kampus kami yang padat. Tidak biasanya teman saya ini berwajah murung, karna dia selalu dikenal sebagai sosok figur yang selalu ceria setiap harinya. Diapun bercerita tentang relasi dengan pacarnya. Saya pun secara pribadi sudah mengetahui bahwa teman saya ini sudah berpacaran bersama seorang pria sejak tahun 2012. Hubungan mereka sempat putus nyambung beberapa kali karna dari pihak pria kedapatan menjalin hubungan dengan wanita lain tanpa sepengetahuan teman saya ini.

Kejadian itu ternyata berulang lagi dengan permasalahan yang sama. Teman saya ngotot bahwa dia harus lebih sabar dan mengampuni pasangannya. Baginya “saya tidak mau menyerah untuk mempertahankan pasangan saya”. Diapun mengakui kepada saya bahwa hubungan mereka bukan saja sampai ke tahap serius belaka, tapi sudah melampaui hubungan fisik (sex) berkali-kali. Bahkan hubungan badan pertama kalinya adalah bersama pacarnya ini. Hal inilah yang membuat teman saya berusaha keras mempertahankan hubungan dengan pacarnya walau jelas-jelas banyak sekali “tanda-tanda” bahwa pria yang bersamanya bukanlah pria yang tepat.

Mengampuni vs Berhikmat

Banyak sekali khotbah yang saya dengar bahwa dalam sebuah hubungan diperlukan adanya pintu maaf yang dibuka sebesar-besarnya antara kedua pasangan. Tentunya mengampuni ini penting sekali. Tapi apakah dengan berjalannya waktu ada perbahan yang dialami oleh pasangan kita? Bila pola yang sama selalu berulang berkali-kali, mungkin sudah saatnya anda menimbang apakah hubungan ini layak untuk dilanjutkan atau tidak. Di Matius 10:16 Tuhan pun memberikan nasihat kepada kita bahwa kita harus cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. It means,  kita butuh hikmat ketika ada kasih di dalamnya. Kata salah satu dosen saya di kelas “jangan cinta bodok-bodok”.

Abuse = Cinta?

Oooooh… Come on people! Kini media mulai mempengaruhi generasi kita untuk percaya bahwa pria yang melakukan kekerasan (kekerasan verbal atau tindakan, tidak harus ditampar atau dipukul. Kalau itu mah definisi klasik) adalah tanda bahwa pria itu menyayangi dan ingin menjadi satu-satunya yang memiliki wanita. Well, sapa coba yang mau disiksa seumur hidupnya? Ingat lho, salah memilih pasangan berarti anda sedang memilih membawa neraka ke bumi, bukan surga ke bumi.

Kebanyakan pria yang melakukan abuse bila ditelusuri kisah hidupnya, mereka berasal dari keluarga yang kacau (broken home). Ada kepahitan, ada kepahitan atau luka yang dibawa entah karena sosok ayah ataupun ibu. Bila hal-hal ini tidak dibereskan, tidak diobati, maka akan menjadi kepahitan yang akan diberikan kepada anda sebagai pasangannya ataupun anak kalian kelak.

Sex = Cinta

Sepertinya nonton film, kalau tidak ada adegan kiss atau ranjang pasti tidak seru. Media mempertontonkan bahwa sex menjadi hal yang lumrah, wajar dalam pergaulan anak muda masa kini. Oh really?

Saya bertemu banyak sekali teman-teman yang memutuskan untuk melakukan hubungan sex ketika mereka berpacaran. Dan tahukah teman-teman? Ketika anda melakukan hubungan sex dengan pacar anda, belum tentu pacar anda itulah yang akan setia hingga kalian berdiri di altar gereja dan disahkan menjadi suami istri. Pihak pria tidak begitu terlihat dampaknya namun wanita akan ‘berbekas’. Jangan takut deh jadi perawan tua, di Yeremia 29:11 Tuhan berjanji bahwa Tuhan telah merencanakan masa depan untuk masing-masing kita. So, tidak perlu khawatir. “bagaimana bila saya tidak akan mendapatkan pria yang lebih baik dari dia?” Percayalah bahwa ketiak anda melepaskan hal yang buruk, Tuhan akan menggantikannya dengan hal yang lebih baik. Just be patience.

Hati vs Logika

Wanita memang cenderung lebih dominan menggunakan hati.  Bukan berarti semua keputusan harus didasarkan dengan perasaan. Jangan lupa membawa logika dalam setiap pertimbangan yang anda buat. Kadang, ada keputusan-keputusan sulit yang harus anda buat dalam relasi anda. Tapi keputusan tepat itu akan mengarahkan anda untuk menjadi lebih baik. Ingat, cinta seharusnya bukan makin membuat kepala anda pusing tujuh keliling namun bisa membawa damai. Bukan kesenangan sementara, tapi sama-sama berpikir keselamatan yang abadi. Bahkan pepatah juga menasehati kita: follow your heart but take your brain with you. 

Sebuah hubungan dilanjutkan dan tidaknya tergantung dari bagaimana anda mengambil keputusan. Ingatlah selalu bahwa jangan pernah takut melepaskan hal yang memberikan dampak negatif ke dalam hidup anda. Karna Tuhan selalu siap memberikan berbagai hal yang baik ketika anda mau melepaskannya.