Although

tumblr_o1d8xpiCue1rn7rv7o1_1280.jpg

Although I’ve never worn a diamond on my left hand,
I am still a bride

Although I’ve never worn a white gown,
I am still a bride

Although I’ve never walked down the isle,
I am still a bride

Although I’ve made many mistakes,
I am still a bride

Although I’ve only got a broken heart to offer,
I’m still a bride

Although I’ve carried guilt and shame for far too long,
I am still a bride

Although I’ve often felt worthless,
I am still a bride

Although I’ve been left behind and forgotten by many,
I am still a bride

Although I’ve felt unworthy for many of my days,
I am still a bride

Although I carry fear and worry around in my pockets,
I am still a bride

Although I’ve let lies invade my heart,
I am still a bride

Although I’ve been unfaithful,
I am still a bride

I am a bride because I have a groom. I am a bride because I’ve been made pure and blameless and whole by the love of the groom. By the love of Jesus. By the groom who came to rescue his bride from brokenness and despair.

Travel Alone

Aku suka kata-kata ini:

“Travel can be one of the most rewarding forms on introspection”

Aku lebih memilih menyebutnya private escape atau menyepi. Sesi introspeksi, mendiamkan semua pertanyaan dan amarah, memilah semuanya satu per satu dengan penuh kejujuran dengan diri anda sendiri. Menyepi bagi saya adalah saat dimana saya tidak membutuhkan siapapun menemani perjalanan ini.

Saya pribadi suka sekali dengan pantai dan senja. 2 hal yang paling bisa membuat saya nyaman dan bisa menjadi alat untuk menyaurkan berbagai hal yang saya pikirkan. Jadi, saya pun akan memilih tempat dimana 2 hal ini bisa diakkmodasi dengan maksimal. Satu hal lagi: saya suka tempat yang tidak begitu ramai dan memiliki ruang privasi yang luas sehingga saya bisa untuk merasakan sesi ini sebagai sesi untuk saya dan bukan untuk beramai-ramai ditengah kegaduhan kota.

PhotoGrid_1461597732934
My Travel Alone Session. Captured by Jeni Karay

Tujuannya sederhana: Bagaimana anda netral melihat kehidupan tanpa ada intervensi oleh orang-orang terdekat anda. Anda bisa memutuskan kemana saja anda ingin pergi, ataupun hanya menulis jurnal anda di kamar. Atau bisa memilih aktivitas seperti saya: menangis sesuka hati, tanpa harus menjaga wibawa didepan orang-orang yang dekat dengan saya. Bagi saya menyepi ini memberikan saya ruang untuk menahan diri, menyendiri untuk mencari apa sebenarnya apa sih yang ingin saya lakukan dalam hidup. Apakah orang-orang yang menyakiti saya layak untuk saya pertahankan dalam kehidupan ataukah ini saatnya untuk meninggalkan mereka dan melanjutkan perjalanan.

Menyepi mengajarkan saya untuk menyerahkan suatu titik kehidupan kepada waktu. Anda akan terpesona bagaimana waktu dapat mengendapkan suatu isu dan memunculkan apa sebenarnya yang terjadi. Tidak semua hal bisa diselesaikan dengan waktu yang berjalan karna waktu hanya menguraikan sebuah babak kehidupan. Yang memutuskan apakah babak itu mempengaruhi kita atau tidak, adalah keputusan diri kita sendiri. Maukah kita semakin melukai hati, atau sudah saatnya melihat titik masalah hanya sebagai pendewasaan untuk menggapai masa depan cerah yang membentang.

Percayalah. Anda akan terpesona bagaimana ketika anda pergi dan kemudian kembali, ada sudut pandang dalam diri anda yang berubah. Bukan menjadi suatu hal yang melelahkan hati, namun anda bisa menghadapinya dengan kepala dingin. Hal ini menghindari respon anda yang dapat melukai orang-orang disekeliling anda. Daripada berbicara dengan mengeluarkan kata-kata menyakitkan, sudah saatnya kita mulai berpikir bagaimana menghadapi setiap hal dengan cara yang elegan.

pergi Menyendiri membuat saya untuk melihat seberapa besar tenaga yang sudah saya keluarkan untuk sebuah hal atau masalah. Apakah sebegitu signifikannya kah untuk menguras tenaga saya? Apa langkah selanjutnya yang bisa saya lakukan bila hal ini kembali terjadi? Bagaimana sikap hati saya untuk merespon apa yang selanjutnya terjadi? Pertanyaan-pertanyaan ini hanya dapat anda pikirkan dengan matang ketika anda berdiri seorang diri. Bukan kata orang tua, gebetan, sahabat atau teman anda. Tapi apa yang diri anda sendiri inginkan.

Menyendiri adalah cara saya untuk mengembalikan tenaga saya. Setelah didera berbagai kejadian, hal yang mungkin tidak sepenuhnya sesuai dengan yang saya rencanakan, menyendiri memberikan saya pilihan untuk mengevaluasi berbagai hal.

Tidak selamanya menyendiri itu buruk. Kita butuh untuk berdiri seorang diri ditengah keramaian untuk memahami siapa sebenarnya diri kita sendiri. Apa sebenarnya yang diinginkan oleh hati kita.

image
Captured by Jeni Karay

Warna yang sama bisa tampak sunyi dan riang sekaligus. Langit paham hal-hal semacam itu. Kata-katamu bicara terlalu banyak tapi tidak pernah cukup. Langit selalu cukup dengan cuaca dan pertanyaan-pertanyaan.

Jangan percaya pada ksrtupos dan kamera seorang petualang. Menyelamlah ke ingatannya dan temukan senja selalu basah di sana. Kau hanya boleh jatuh cinta kepada ingatan yang menyerupai langit: rentan dan tidak mudah dikira.

Dia meninggalkanmu agar bisa selalu mengingatmu. Dia akan pulang untuk membuktikan mana yang lebih kuat, langit atau matamu.

~Aan Mansyur

Lilin-lilin kecil yang bersinar dimanapun mereka berada

Hai readers,

dalam tulisan kali ini saya repostkan postingan dari teman-teman BUP tentang kampanye gemar membaca. Untuk kampanya ke 32 ini, yang dipostingkan tentang profilnya Jeni. Semoga bisa jadi pelajaran bagi para readers yah 🙂

12473686_988992311149806_1025069159263352091_o.png

Kesukaan membaca itu sudah ada sejak kecil, mungkin karena orang tua saya adalah dosen di salah satu universitas swasta di Papua dan mama yang juga adalah guru SD di Jayapura, jadinya tiap hari selalu saja ada buku bacaan atau koran yang diletakkan diatas meja. Dari hal-hal sederhana itulah timbul rasa ingin tahu untuk membaca ataupun hanya untuk melihat gambar-gambar ilustrasi dalam buku-buku yang ada. Dari semua buku yang saya baca, yang selalu jadi favorit dan selalu menjadi “ritual keluarga” setiap perayaan natal tiap tahun adalah salah satu karya klasik Charles Dickens [1], Christmas Carol [2]. Memang sih buku ini jadul sekali. Tapi esensi tentang nilai kehidupan dalam ceritanya selalu abadi untuk mengingatkan agar terus rendah hati, mau berbagi dan memiliki jiwa sosial kepada yang lain. Jadi secara tidak langsung, buku ini selalu jadi pengingat pribadi saya beserta seluruh keluarga untuk tidak lupa dengan orang-orang disekitar kami.

Apalagi ada cerita – cerita yang selalu diceritakan oleh orang tua saya sejak masih kecil yang ternyata kalau saya pikir – pikir itu mereka gunakan untuk mengajarkan saya tentang etika, nilai-nilai kehidupan positif sejak usia dini. Cerita – cerita yang saya masih ingat antara lain ada Charlotte’s Web, Oliver Twist, Matilda, Pinoccchio, The Wizard of Oz, Sleeping Beauty. Menyukai membaca dan mendapatkan manfaatnya melalui diingatkan agar terus peduli membuat saya mempunyai panggilan untuk berkontribusi pada pengembangan masyarakat, itu sebabnya sembari belajar saya juga aktif di beberapa aktivitas sosial antara lain Untuk saat ini saya berperan sebagai konsultan komunikasi untuk komunitas anak-anak muda di kota Jayapura. Selain itu, sekarang ini saya melanjutkan kuliah di Salatiga, dan disana saya bergabung bersama teman-teman LIGHT community yang fokus untuk menjadi partner bagi para peyintas kanker di kota Salatiga.

Anak Papua yang gemar membaca itu saya singkat dengan satu kata: Mantap.

Kenapa? Karna hanya orang yang suka membacalah yang dapat mantap memandang apa yang ingin dicapainya dalam hidup. Hanya anak Papua yang gemar membaca lah yang dapat dengan mantap mengetahui apa yang ingin dicapainya di masa depan. Hanya orang yang suka membacalah yang dapat beradaptasi dengan perubahan jaman dan dapat menjadi champion (juara) menghadapi tiap tantangan dalam kehidupannya.

Bayangkan saja kalau ada 100 anak Papua yang suka membaca dan benar-benar menekuni hal yang spesifik disukainya. Saya percaya hal itu akan membawa perubahan signifikan bagi Papua yang lebih baik. Berbagai prestasi yang saya dapatkan selama studi maupun diluar studi berasal dari kesukaan saya untuk membaca berbagai literatur. Buku juga selama ini membawa saya berkeliling Indonesia tanpa biaya sepeserpun yang saya keluarkan. Asik kan? Yuk, budayakan membaca. Setiap detik yang kita keluarkan untuk membaca, tidak pernah terbuang percuma (yang penting jangan yang dibaca itu cuman postingannya gebetan atau status update di sosmed yaah )
Semoga dengan kecintaan pada buku, bisa membangkitkan banyak anak-anak Papua yang akhirnya menjadi lilin-lilin kecil yang bersinar dimanapun mereka berada. (Pitohabi)

Jeni Beatrix Karay
Mahasiswi S2 Sistem Informasi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, sebelumnya bekerja sebagai Communication Officer dan Program Officer untuk provinsi Papua dan Papua Barat untuk program kerja sama Australia dan Indonesia (AIPD dan KOMPAK).

[1] Charles John Huffam Dickens (lahir di Landport, Portsmouth, Hampshire, Inggris, 7 Februari 1812 – meninggal di Tempat Bukit Gad, Higham, Kent, Inggris, 9 Juni 1870 pada umur 58 tahun) adalah seorang penulis roman atau novel ternama dari Inggris dari masa pemerintahan Ratu Victoria dari Britania Raya.
Dickens bahkan sampai sekarang masih populer dan semua bukunya masih bisa dibeli. Banyak dari buku-buku juga sudah dibuat menjadi film. Sepanjang kariernya Dickens mencapai popularitas mendunia, mendapatkan reputasi untuk cara menulis cerita yang sangat baik dan untuk tokoh-tokoh ceritanya. Ia dianggap sebagai salah satu penulis Inggris yang paling penting. Dia adalahnovelis yang paling terkenal dan terbaik di era Victorian dan juga seseorang yang aktif melakukan perkerjaan sosial. https://id.wikipedia.org/wiki/Charles_Dickens

[2] Christmas Carol adalah sebuah buku yang menceritakan tentang kisah pria tua yang selain kikir, juga membenci Natal bernama Ebenezeer Scrooge. Di mana pada malam natal, ada hantu Marley menampakkan diri kepada Scrooge. Marley adalah partner kerja Scrooge yang telah meninggal dunia. Hantu Marley memperingatkan bahwa Scrooge akan didatangi oleh tiga sosok hantu; Hantu Natal Masa Lalu (Ghost of Christmas Past), Hantu Natal Masa Kini (Ghost of Christmas Present), dan Hantu Natal Masa Depan (Ghost of Christmas Yet to Come). Setiap hantu akan membawa Scrooge dalam perjalanan menembus waktu dan tempat, di mana ia akan memperoleh pelajaran untuk mengubah dirinya, bagaimana ia bersikap terhadap orang lain, dan bagaimana ia menggunakan uang yang dimilikinya untuk membantu mereka yang miskin. https://surgabukuku.com/…/review-a-christmas-carol-and-the…/

‪#‎GemarMembaca_32‬
‪#‎PapuaCerdas‬ ‪#‎PapuaMembaca‬ ‪#‎AnakPapuaGemarMembaca‬
‪#‎CopyrightBukuntukpapua‬

Sumber: https://www.facebook.com/Bukuntukpapua/posts/988992311149806:0

Hujan 7 Hari

Sudah 7 hari di kota ini. 7 hari juga hujan tidak pernah absen dari kota ini. Alhasil, beberapa rencana untuk menjelajah kota ini gagal total. Hanya bertemuan dengan jendela kamar, sesekali ke depan persimpangan jalan lalu kembali lagi ke kamar. 7 hari yang sama kulihat Jalan-jalan kota ini basah, pecek. Kendaraan yang lalu lalang pun tidak menurunkan kecepatannya ketika melewati selokan. Alhasil, banyak mahasiswa yang teriak sambil mengucapkan sumpah serapah karna pengendara yang semena-mena menggunakan jalan.

Masih duduk ditemani secangkir kopi pahit panas sambil memandang keluar jendela. Hujan bukannya semakin reda, tapi semakin menjadi-jadi. Aku suka dengan kota ini. Selalu basah diwaktu pagi, menghantarkan lelah jiwa dengan lantunan rintiknya. Kalau dipikir-pikir.. hujan adalah salah satu saksi bisu dari setiap kisah manusia. Dibawah rintik hujan, langkah kaki dua sejoli berlalu dihadapanku. Saling menatap dengan senyuman sambil berlalu dengan cepat. Dibawah rintik hujan, Ibu paruh baya menggendong anak lelakinya yang memutarkan tangan memeluk leher ibunya. Dibawah rintik hujan aku menjadi bagian dalam babak kehidupkan ini: seorang wanita yang berjalan tergesa-gesa mengejar masa depan namun disaat bersamaan merindukan rumahnya.

Hujan itu unik, menurutku. Kehadirannya bisa memberikan rasa kelegaan, rindu yang terbangun, ataupun kenangan yang dibangkitkan setiap hujan gerimis mulai turun satu per satu.

Tinggal di kota ini membuat diriku belajar mencintai dan menikmati waktu hening ketika hujan mulai turun. Yang paling kusuka adalah saat kabut mulai merambahi jalan kota yang mulai lengkang. Terlihat mistis, sunyi, indah dipandang mata.

Ada rindu yang kulepaskan untuk dibawa olehnya

Ada harapan yang bisikkan dalam tiap rinai rintiknya

Ada kenagan yang membuatku tersenyum setiap memandang keluar jendela

 

Memang benar bahwa apapun yang diciptakan olehNya adalah indah apa adanya. Berteman dengan hujan, membuat aku belajar untuk berteman dengan keheningan dan menikmati setiap kejadian yang tersaji di depan mata. Selalu ada keindahan dimana saja.

Sunken Treasure

image

The book of James says, “You do not have because you do not ask.” To illustrate this scripture, there’s a story about a little boy who had a dream of heaven. In the dream, God took the boy to a room. In the room were various types of material possessions like cars, houses, and other objects needed for daily life. Also in the room were things that seemed grotesque: eyeballs, legs, hands, and feet piled high in various corners. When the little boy asked God what it all meant, God replied, “These are answers to prayers never prayed.”

Even if this story is fictional, it still carries a profound message. The moral of this story is scripturally accurate. People do not possess many of the things God intends for their lives for one simple reason: they have never asked.

Like sunken treasure littering the bottom of the sea, God’s responses to unprayed prayers are left undiscovered and lost. What about you? Is some of the treasure of your life resting with the Spanish galleons deep below your life’s surface and waiting for the salvage work of prayer to excavate them? Are you perhaps missing out on what God intends for your life because you have never asked?

Taken from: Praying For Your Elephant – Praying Bold Prayers.